tentang memilih

beberapa bulan belakangan ini, otak dan hati saya sedang dipenuhi banyak hal. bukannya biasanya tidak ya, hanya saja rasanya sedikit berbeda dari biasanya. tentang hal hal yang tak lagi remeh, seperti memilih warna jilbab atau memilih film untuk ditonton. tentang hal hal yang memang sepatutnya sudah dipikirkan berbulan lalu, yang masih saja saya hindari, sampai akhirnya ia melemparkan dirinya di depan mata.

tentang saya dan suami. tentang pernikahan kami.

dua tahun lamanya saya dan suami menjalani pernikahan ‘agak semu’ ini. mungkin kalau di Korea, kami sudah dapat julukan macam weekend couple atau apalah. pertemuan yang hanya dua hari di antara tujuh hari seminggu itu begitu mewah dan selalu kami habiskan tuntas. cinta selalu penuh foya foya, bukan ?

tiap ada yang bertanya, kami selalu menjawabnya dengan tertawa. kalau ada yang mencibir ? kami tertawakan juga. toh kami yang menjalani. apa yang ada di balik pintuĀ kamar kami memang seharusnya tidak dibagi bagi.

kami masih optimis bahwa suatu saat nanti kondisi akan berpihak pada kami. kondisi ideal, layaknya puluhan orang lain di sekitar kami. menjalani hari bersama, tanpa perlu ada pihak yang merasa dikorbankan, pikiran maupun ambisinya.

dua tahun lamanya. menunggu keidealan semesta berpihak pada kami.

sampai akhirnya, saya, kami, tiba di titik ini. bahwa mungkin, ideal kami berbeda dengan ideal semesta. bahwa mungkin, semua yang kami canangkan itu memang tidak seharusnya terjadi.

ketika arus takdir membawa kita menjauh dari apa yang kita tuju, sudah saatnya kita duduk kembali dan mempertimbangkan pertanyaan paling dasar yang menjadi pegangan selama ini. apa sih, yang sebenarnya kita tuju ? apa sih yang sebenarnya kita cari ?

mungkinkah ini Tuhan, berbicara pada kami, menunjukkan arah jalan yang seharusnya kami ambil dua tahun lalu ? atau mungkin ini Tuhan, memukul ego kami, yang dengan sombongnya merasa tahu cara menyetir dunia kami ke arah yang menurut kami paling baik ?

ketika tiba saatnya untuk memilih, bisakah kita mengesampingkan semua kesombongan dan menerima apapun yang digariskan, berjuta tahun yang lalu ?

semoga ‘kami’ cukup kuat untuk meredam segala ke’aku’an.

semoga. semoga. dan semoga. pilihan ini diambil dengan jantung yang berdebar kencang, karena saya, manusia biasa yang begitu takut akan ketidakpastian.

at least I know that he will always be there, holding my hand.

Advertisements

One thought on “tentang memilih

share me your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s