#156 baby business



oke, ini akan jadi on of those rambling post, but bear with me yhaaaa…

 
so, as you people know, am a married lady. I got married on October 2013, so yes, we’re hitting our second year. dan mungkin bisa ditebak pertanyaan nomor satu yang mampir ke gue dan suami selama hampir dua tahun ini. yep, the same old question, udah isi apa belum ?
 
pas abis nikah, kami sempet ngobrol ini dari hati ke hati *halah* dan sama sama sepakat bahwa kami akan berusaha biar bisa kerja sekota dulu. yang mana sampe saat ini belum kejadian juga. this process is hard and we both need to contemplate everything. for our case, it’s not as easy as ‘ya udah istrinya aja yang berhenti kerja’. and I can’t stop thanking God for a husband like him. sama sekali ga ada paksaan buat berhenti kerja atau pindah. anyway, it’s another story…
 
so yes, sampai saat ini, kami masih fokus gimana biar bisa sekota. meskipun, yes I admit, gue sempet galau berkepanjangan karena sampe beberapa bulan setelah nikah kok belom isi juga. dan ternyata, emang penuh drama banget, sis !! baru telat sehari udah test pack tiga biji, pernah. nangis nangis karena dapet sehari lebih cepet, pernah. and yes, those disappointed feeling ketika garisnya cuman sebiji terus ga lama, tamunya dateng. those are maybe the worst feeling. it’s like your body failing you. like it’s betray you. semua rasa kecewa patah hati sama pacar di masa lalu itu cuman sepersekiannya doang.
 
my worst times mungkin deket deket setahun pernikahan kemarin. temen temen yang nikahnya bareng udah pada lahiran dan gue cuman bisa bengong sambil sedih. pokoknya sampe down banget dan stress. liat foto temen lahiran aja gue bisa mewek lho.
tapi ternyata stress itu justru nambah beban buat badan gue. siklus bulanan gue langsung ngaco. bahkan sempet sampe hampir dua bulan. di titik inilah gue mulai bener bener berpikir lagi, sebenernya apa sih yang bikin gue sampe stress berat gini ?
 
***
 
gue selalu percaya, Tuhan itu ngasih apa yang kita butuhin, bukan apa yang kita mau. ini gue yakini sepenuh hati dan udah banyak banget buktinya.
begitu juga soal anak. pemikiran ini gue endapkan dan gue resapi dalam dalam. in the end, gue paham bahwa anak itu hak prerogatif Tuhan.
itulah kenapa gue merasa tulisan mbak Dian ini sangat mewakili. rasanya pengen deh meluk mbak Dian terus tos sambil bilang, “sis, I feel you siiiis !!”. dan yang paling membuat gue rasanya kayak nemu oasis di tengah gurun, adalah ayat ini. Asy Syura : 49-50

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ (٤٩) أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ (٥٠) 

 49. [10]Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki,

50. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa[11]. 


gue yakin seyakin yakinnya bahwa Tuhan itu Maha Segalanya. termasuk dalam memberi anak atau menjadikan seseorang mandul. meaning, kalo jalannya udah begitu, ya begitu. kita bisa apa ? toh sesungguhnya sehelai daun yang jatuh aja atas perintah Allah, apalagi proses kehamilan (dan kelahiran pada akhirnya).

tapi, ego kita sebagai manusia kan ga gampang ditundukkan ya. apalagi kita yang masih muda, masih di prime time begini. masih merasa mampu segalanya. dan berhak atas segalanya.
inilah penyebab utama gue waktu ke SPOG beberapa kali. gue masih datang dengan pikiran “pasti bisalah gue, apanya sih yang salah/kurang ?”. setelah ke dokter gimana sis ? gue HARUS mberesin pola hidup gue. bangun pagi, sarapan, dan yang paling penting : olahraga !! ga bisa dipungkiri, kemalasan itu emang sumber segala ketidak seimbangan hidup yha.

terus gimana dong ?
I often play some skenario in my head, termasuk soal ini. kalo misalnya kami takdirnya ga dikasih, gue mau gimana ? mau apa ? kalo kami dikasih, kira kira gue akan jadi seperti apa ? harus bagaimana ?
termasuk memainkan skenario soal anak gue kelak. namanya anak pemberian Allah, mau gimana kondisinya kan terserah Allah yang kasih ya. kalo anak gue jeniusnya ngalahin Einstein, gue udah siap belom ? atau misalnya dese a gifted musician macam G Dragon ? atau, kebalikannya, misalnya (naudzubillah) terlahir dengan cacat bawaan, gimana ? gue udah siap belum ? just playing those scenario in my head aja udah pening sis.

in the end of the day, gue cuman bisa melakukan yang akan dilakukan muslim-muslim lain yang sedang berdoa sama Allah : tawakkal. berserah diri. atau bahasa jawanya semeleh. karena, semuanya sudah diatur sama Allah. kita manusia kebagian berdoa dan berusaha semampunya. mohon doanya ya teman temaaaaan, amiiiiinnn..

mau dong punya tiga anak kicik ini versi lokaaaal :3


btw, gue kok kepikiran bikin beberapa tulisan soal marriage life, tapi malah bingung mau nulis apa, huahahahaha…


Advertisements

share me your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s