#141 memahami perubahan



terkadang, kita begitu mencintai sesuatu dan berpikir kita sudah tahu segalanya tentangnya, tanpa pernah berpikir bahwa dia, seperti semua objek di dunia, adalah bagian dinamis dari semesta. dengan kata lain, dia mungkin dan pasti akan berubah.

 
begitu pula dengan jogja.
 
cinta ndoro pada kota ini dimulai di detik pertama ndoro menginjakkan kaki untuk melanjutkan sekolah. stasiun Lempuyangan yang ramai anak kuliah, jalanan yang dipadati pesepeda dan pak becak, juga kampus yang berdiri megah berlatarkan Gunung Merapi. sedikit yang ndoro tahu, bahwa cinta itu akan terus ada, bahkan setelah kaki ndoro yang mulus ini sudah tidak lagi menginjak tanahnya.

hello, Merapi :3

sejujurnya, Jogja bukan kota utama tujuan utama ndoro kuliah. targetnya saat itu sungguh ngawu ngawu dan muluk : Jakarta, Bandung atau Surabaya. tapi karena titah Baginda Raja dan Ratu, pilihan terbatas di Jawa Tengah saja. hamdalah, ndoro pun diterima di kampus tertua di Indonesia untuk jurusan Manajemen. jurusan yang dipilih karena keliatannya keren favorit, tanpa tau lebih detil.

 
perkuliahan pun dimulai. mimpi mulai digantung tinggi tinggi. buku buku tebal dan fotokopi slide pun jadi teman sehari hari. bête dan sebel karena kuis dapat jelek, atau bahagia karena bisa sekelompok sama mas mas paling ganteng sekampus. tapi kegiatan favorit masih sama, nongkrong ga jelas di kampus teknik, lalu ngobrol random sama mas mas yang kebetulan ada di sana. siapa tahu ketemu gebetan.
 
di luar itu semua, tempat yang paling berkesan tentu saja stasiun. Lempuyangan & Tugu. stasiun yang selalu disambangi tiap akhir minggu dan didatangi di awal minggu. loh apa bedanya Lempuyangan sama Tugu ? Lempuyangan adalah stasiun tujuan akhir Jogja buat kereta kereta ekonomi dan bisnis (Senja & Fajar family); sementara Tugu untuk kereta eksekutif (Argo family). buat kalangan mahasiswa sih biasanya lebih familiar sama Lempuyangan. selain karena mahasiswa kan biasanya naik kereta ekonomi atau bisnis, juga karena di Lempuyangan ini ada penitipan motor yang murah. cukup Rp 5,000 buat weekend. sementara di Tugu, semalem bisa Rp 10,000 cyin. kalo di hatimu, berapa mas ?

Lempuyangan, kini.

sebagai mahasiswa rantau nanggung (merantau dari Solo), tentu saja alat transportasi utamanya adalah si kereta second dari Yapon, Prameks. nggak banyak orang yang tahu, naik Prameks ini ada tips and triknya. seperti, ngikut Prameks dari Lempuyangan ke Tugu, sebelum si kereta balik ke Solo. tujuannya ? biar dapet tempat duduk, karena emang biasanya pas weekend rame banget. atau perkiraan keberangkatan yang biasanya telat 5 menit dari jadwal yang dipasang di stasiun.

pokoknya, uda fasih banget lah naik Prameks ini. biasanya sih, nyampe stasiun kurang 5 menit dari jadwal, langsung beli tiket on the spot, beli minum… dan voila. sukses naik Prameks tanpa banyak drama. meskipun si jadwal ini ga istiqomah dan beberapa kali diganti, tapi behaviournya masih tetep tuh. and I thought it will always stay the same.

tapi ternyata… aku salah…

setelah kerja, udah jarang banget balik Jogja. setahun sekali lah paling. itupun biasanya dijemput mobil kantor (kalo tugas negara) atau dijemput simbah. dari Jogja ke Solo pun lebih suka naik bis dari Janti, soalnya lebih deket dari kantor Jogja dan rumahnya simbah. nah, kebetulan, di trip kemaren, ndoro harus bolak balik Jogja – Solo – Klaten. niat utama tripnya sebenernya adalah nengokin anaknya Mair dan ngopi film sowan ke Simbah. tapi karena ndoro Ratu minta ditengok, akhirnya mampir jugalah ndoro ke Solo.

rutenya jadi gini
Jakarta – Jogja – Klaten – Jogja – Bantul – Jogja – Solo – Jogja – Jakarta

ribet ya ? emang !! badan pun sampe remuk tak berbentuk. nah, tentu saja dong alat transportasi yang paling diandalkan adalah si Prameks. dengan gampangnya, ndoro berpikir, ‘ah, cincai lah naik Prameks. paling masih sama kayak dulu, jadwalnya doang yang maju mundur’. tanpa pikir panjang, ndoro pun bersenang senang di Jogja. lalu, prahara pun melanda.

seperti biasa, Simbah pun ngedrop ndoro di stasiun Lempuyangan jam 4. sebelumnya ndoro uda cek jadwal dan ada kereta jam 4.30 sore. dengan riang gembira ndoro melangkah ke penjual tiket.

“ke Solo satu mas”
“adanya jam 6 mbak, gimana ?”
“hah ? di jadwal ada jam setengah lima kok”
“iya mbak, tapi tiketnya habis, adanya yang jam 6”
“habis ?” *mbatin, gimana cara tiket prameks bisa habis*

karena ndoro tetep ngotot buat beli tiket jam 4.30, dan si mas tetep ngotot tiketnya abis, ributlah kami di loket. sampe disamperin sekuriti segala saking hebohnya. si bapak pun menjelaskan, bahwa sekarang tiket Prameks diberlakukan sistem kuota per stasiun. jadi sepanjang perjalanan Prameks itu kan ada beberapa stasiun singgahnya. nah, jumlah tiket pun dibagi bagi ke tiap stasiun ini. jumlah tiket pun sekarang dibatasi, biar ga penuh penuh amat. ndoro pun cuman bisa melongo sambil pisah pisuh. tau gini kan pas cek jadwal sekalian beli tiket ndoroooooo (T___T)

jadwal yang ga istiqomah

terus ndoro pulangnya gimana dong ? untung ada bapak bapak baik hati yang nawarin naik taksi (yang jebulnya omprengan) ke Terminal Giwangan, buat naik bis jurusan Solo. sepanjang jalan si bapak cerita bahwa selain kereta, angkutan umum yang lain juga udah mulai hilang dari Jogja. bis kota pun udah tinggal 3 jalur katanya. “sekarang yang megang ojek sama taksi mbak”. jadi, sekarang memang harus punya kendaraan sendiri kalo di Jogja.

usut punya usut, bukan hanya masalah transportasi aja yang berubah. malah transportasi ini bisa jadi kena imbasnya masalah yg lebih dulu muncul; yaitu bertambahnya pembangunan hotel + apartemen di Jogja. konon, di 2014 aja ada 60 hotel dan apartemen baru !! bertambahnya hotel, berarti wisatawan juga bertambah dong. nah, jarang jarang kan kalo turis gitu naik bis umum. pasti pilih sewa taksi ato carter mobil.

dan yang penting, yang paling kena imbasnya ya masyarakat Jogja. air tanah jadi hilang dan katanya Jogja jadi tambah semrawut dan sumpek. tapi di sisi lain, bertambahnya hotel dan apartemen ini jadi rejeki buat beberapa orang. seperti tukang becak yang biasanya mangkal di deket hotel. atau penyedia jasa tour guide yang kebanjiran order.

apapun itu, harus diakui, Jogja yang sekarang, sudah bukan Jogja yang pernah ndoro tinggali. mungkin semua yang dikangeni dari Jogja, sudah nggak bisa lagi didatangi saat ini, karena meskipun obyeknya sama, manusia yang melingkupinya pun sudah berubah. warung burjo di jalan Kaliurang mungkin sudah mulai digantikan dengan kafe dan coffee shop. karena mahasiswa sekarang mungkin sudah tidak suka warung burjo. karena coffee shop sudah dilabeli dan diberi gengsi, mungkin.

burjo baru di daerah kalimalang. we miss you, sangkuriang !!

perubahan Jogja terjadi karena manusia di dalamnya pun berubah. berubah nilainya, berubah inginnya, berubah rasa nyamannya. dan manusia selalu berusaha membuat alam mengikuti perubahannya. tanpa sadar bahwa arti adaptasi adalah manusia yang menyesuaikan dirinya dengan alam, bukan sebaliknya. semoga nantinya masih ada yang akan mengadaptasi Jogja, bukan meminta Jogja mengadaptasinya.

karena memang hidup itu berputar. karena hidup itu berubah. dan manusia, seharusnya menjadi perubahan, ke arah yang lebih baik.

smell you later, people !!

Advertisements

2 thoughts on “#141 memahami perubahan

  1. Dadi sediiih
    Tpi memang bedo saiki jogja
    Dadi semrawut ngono
    Efek ftv ning jogja makane byk anak muda membanjiri kayane
    Kapan kita menjogja kakak?! 😀

    Like

share me your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s